Pertemuan Jokowi dan Peserta Aksi Kamisan Digelar Tertutup

Pertemuan antara Presiden Jokowi dengan massa Aksi Kamisan, di Istana Merdeka, berlangsung tertutup. Massa meminta Jokowi hadir di Aksi Kamisan.

Jakarta, CNN Indonesia — Pertemuan Presiden Joko Widodo alias Jokowi dengan keluarga korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) atau yang dikenal sebagai massa Aksi Kamisan, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (31/5), berlangsung tertutup.

Berdasarkan pantauan, Jokowi didampingi Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Koordinator Staf Khusus Teten Masduki, Juru Bicara Presiden Johan Budi, dan Stafsus bidang Komunikasi Adita Irawati.

Menko Polhukam Wiranto dan Jaksa Agung Prasetyo tak terlihat mendampingi Presiden tadi.
Lihat juga:Jokowi Temui Peserta Aksi Kamisan
Sebelum pertemuan, salah satu keluarga korban pelanggaran HAM Maria Catarina Sumarsih menyatakan kehadirannya ke Istana Merdeka guna mengingatkan Presiden tentang penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu.

Sumarsih merupakan ibu dari Bernardinus Realino Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas saat Tragedi Semanggi I.

“Yang dituntut [kepada] Pak Jokowi [adalah] menyelesaikan kasus dengan menugasi Jaksa Agung menindaklanjuti berkas penyelidikan Komnas HAM,” ucap Sumarsih.
Lihat juga:Sumarsih Kecewa Jokowi Tak Singgung 20 Tahun Reformasi
Ia pun tak menampik kemungkinan mengajak Jokowi keluar Istana mengikuti langsung Aksi Kamisan di Taman Aspirasi. Saat ini, sekitar 540 orang mengikuti Kamisan dengan payung hitam.

 

“Ya mestinya tidak usah diajak. Semestinya beliau langsung hadir bersama kami dan korban di depan Istana,” cetus dia.

Oleh sebab itu, Sumarsih menegaskan pertemuan ini bukan hanya untuk bertemu dan mengobrol bersama Presiden Jokowi melainkan mendapatkan solusi menyelesaikan kasus yang mandek hingga puluhan tahun.
Lihat juga:Wawan, Rompi Antipeluru, dan Sayur Asam Yang Belum Disantap
Bersamanya, turut hadir 19 anggota keluarga korban Tragedi Semanggi I dan II, Trisakti, Talangsari, Munir, Tanjung Priok, Tragedi 1965-1968, dan Tragedi Penghilangan Paksa 1997-1998.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*