Tanda Bumi Panas Mendidih Tampak dari Luar Angkasa

Orang-orang melindungi diri dari matahari dengan payung saat mereka menyeberang jalan pada hari yang hangat di Singapura 15 Mei 2023. (REUTERS/Edgar Su)

NASA mendeteksi tanda El Nino di Bumi dari Luar Angkasa. Sinyal Bumi bakal panas mendidih dideteksi oleh satelit Sentinel-6 Michael Freilich.

Satelit Sentinel-6 Michael Freilich merekam gelombang Kelvin bergerak ke arah timur melintas Samudra Pasifik. Fenomena gelombang air hangat ini selalu terjadi sebelum El Nino.

Gelombang Kelvin bergerak ke arah timur ke pantai barat Amerika Selatan sepanjang Maret dan April. Tinggi https://188.116.26.232/ gelombang ombak panjang samudra ini hanya 5 sampai 10 cm, tetapi lebarnya mencapai ratusan kilometer.

Fenomena ini terbentuk di khatulistiwa kemudian mendorong air hangat di lapisan atas samudra Pasifik bergerak ke arah barat Pasifik.

“Kami akan mengamati El Nino seperti elang,” kata Josh Wills dari NASA. “Jika [El Nino] ini besar, suhu panas di Bumi akan mencetak rekor.”

El Nino sendiri termasuk dalam siklus iklim ENSO. Fenomena ENSO dimulai dengan angin yang bergerak ke arah timur sepanjang khatulistiwa, meniup air permukaan ke barat dari benua Amerika ke benua Asia. Seiring bergeraknya air hangat, air dingin naik ke permukaan.

Jika El Nino terjadi, fenomena pergerakan angin tersebut melemah sehingga air hangat malah tertiup ke arah timur. Saat El Nino, curah hujan di Indonesia turun drastis, begitu juga di India dan bagian utara Australia. Sebaliknya, hujan dan siklon tropis bertambah banyak di Samudra Pasifik.

El Nino biasanya terjadi setiap tiga atau lima tahun, tetapi bisa saja lebih sering terjadi. El Nino terakhir terjadi pada 2019 dan berlangsung selama 6 bulan, antara Februari dan Agustus.

“Gelombang samudra berputar keliling Bumi, membawa panas dan kelembaban ke pantai kita dan mengubah cuaca,” kata ilmuwan NASA, Nadya Vinogradova Shiffer.

Pada April, ilmuwan merekam suhu permukaan samudra paling hangat, dengan rata-rata suhu global 21,1 derajat Celcius. Ini merefleksikan dampak dari perubahan iklim dan akhir La Nina.

“Kini La Nina berakhir dan Pasifik, lautan yang besar, makin panas,” kata Michael McPhaden dari NOAA.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*